Kumpulan Puisi


Hujan
Karya: Raudah Putri Ekasari
Gemercik air membangunkan rerumputan
Membasahi hati mengguyur pagi
Sehari waktu telah dilalui
Memanggil sepi yang datang lagi
Mengoyak hati yang fana
Fana akan dunia ini
Dunia yang takkan habis
Habis dimakan zaman tak berkesudahan
Rindu yang tak terelakkan
Rindu yang fana akan hadirnya
Hujan

Tikus
Karya: Raudah Putri Ekasari
Kala sang surya membuka tirai
Gemercik embun membasahi kesunyian
Rerumputan  bergoyang menyambut sinar membelah heningnya malam

Terserah padamu matahari
Terserah padamu pagi
Terserah padamu para penguasa bumi

Di hadapan kami kau berpakaian rapi
Bak orang terhormat kau menggigiti uang kami

Yang tertinggal hanyalah rintihan
Rintihan kemiskinan
Miskin dan tenggelam
Tenggelam dimakan kegelapan

Kau gelapkan harta kami
Di singgasana gedung gedung
Yang kau beri nama
Wakil rakyat
Si Anida
Karya: Raudah Putri Ekasari
Nol koma dua mililiter
Jumlah yang mampu menembus jantungmu
Nol koma dua mililiter
Jumlah yang  mampu mengoyak isi perutmu

Siapa yang tahu hari itu
Siapa yang tahu waktu itu
Arlojimu berhenti seketika

Sudah menjadi kehendaknya
Sudah menjadi takdirnya
Janji tuhan hari itu janji tuhan waktu itu
Menghentikan arlojimu

Toh dia tidak bisa hidup lagi kan
Siapa yang akan melawan kehendaknya
Jaksa? Ataukah dia pelakunya

Siapa yang tahu
Siapa yang akan
Siapa yang jadi pemenangnya
Mari kita lihat saja pertunjukannya
Posisikan
Karya : Raudah Putri Ekasari
Kata orang perahu itu biru
Kataku perahu itu ungu
Kata kamu pengalaman itu aku
Kataku pengalaman itu kamu
Kata orang perahu itu biru
Kataku perahu itu ungu
Kata kamu perasaan itu aku
Kataku perasaan itu kamu
Katamu kamu tahu siapa aku
Kataku aku tahu siapa kamu
Katamu kamu tahu perasaanku
Kataku ku katakan kekamu
Tuk diposisiku kataku
Tuk tahu perahu itu ungu
Banjarmasin, 29 September 2016

Halo Delusi
Karya: Raudah Putri Ekasari

Halo! Bisa bicara dengan delusi?
Aku ingin mengajaknya pergi ke istana
Bersama saudagar-saudagar kaya
Ini bukan fiksi!
Terik matahari memang gelap gulita, dilangit ibu kota.
Perutmu sudah busuk dengan harta-harta yang gelap bukan?
Begitu?! Ku katakan kau tidak bisa mengajaknya
Itu hanya halusinasimu! Jangan berfantasi kau!
Intuisimu sangat buruk, menjadikan puisimu begitu busuk!
Pergi kau! tikus-tikus nakal ibu kota!
Buang! Buang! Jauh-jauh ilusimu itu!
Ku tak ijinkan delusimu berevolusi sepertimu, Tikus nakal!

Hujan dan Filosofinya
Karya: Raudah Putri Ekasari
Kau yang memisahkan,
Kau yang mengembalikan,
Dirinya yang sekarang telah berlalu bersamakau.
Tidak! Dirinya yang saat ini beranjak pergi bersamamu hujan!
Filosofimu hujan tentangnya yang melihatmu di remang-remang lampu taman anak kota.
Filosofimu hujan tentang dia yang menatapmu di genangan-genangan air pinggiran trotoar ibu kota.
Berbeda memang, bahkan mereka tidak pernah nyaman bila akan di samakan.
Banjarmasin, 16:18, 11/05/2017

Komentar